
Masjid Agung Palembang atau Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo merupakan salah satu peninggalan penting Kesultanan Palembang. Pembangunan masjid dimulai pada tahun 1738 atas prakarsa Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo dan selesai pada tahun 1748. Pada masa awal, masjid ini dikenal dengan nama Masjid Sultan.
Masjid Agung memiliki hubungan erat dengan perkembangan Kesultanan Palembang Darussalam. Keberadaannya menunjukkan bahwa kehidupan keagamaan menjadi bagian penting dari struktur kehidupan masyarakat dan pemerintahan pada masa kesultanan. Masjid ini berada di kawasan pusat Kota Palembang dan berdekatan dengan sejumlah objek sejarah lainnya, termasuk Benteng Kuto Besak.
Masjid Agung memiliki karakter arsitektur yang memperlihatkan akulturasi budaya Melayu, Cina, dan Eropa. Unsur Melayu terlihat pada bentuk atap tumpang tiga. Unsur Cina terlihat pada bentuk jurai yang melengkung ke atas. Sementara itu, pengaruh Eropa terlihat pada bentuk pintu yang melengkung. Perpaduan tersebut menjadi bukti adanya interaksi berbagai kebudayaan dalam perkembangan sejarah Palembang.
Masjid Agung juga telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional berdasarkan Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor KM.09/PW.007/MKP/2004.
Arsitektur
Masjid ini dipengaruhi oleh 3 arsitektur yakni Melayu, China dan Eropa. Gaya khas arsitektur Nusantara adalah pola struktur bangunan utama berundak tiga dengan puncaknya berbentuk limas. Undakan ketiga yang menjadi puncak masjid atau mustaka memiliki jenjang berukiran bunga tropis. Pada bagian ujung mustaka terdapat mustika berpola bunga merekah. Bentuk undakan bangunan masjid dipengaruhi bangunan dasar candi Hindu-Jawa, yang kemudian diserap Masjid Agung Demak. Ciri khas arsitektur Eropa terdapat pada rupa jendela masjid yang besar dan tinggi. Pilar masjid berukuran besar dan memberi kesan kokoh. Material bangunan seperti marmer dan kaca diimpor langsung dari Eropa. Sedangkan arsitektur China dilihat dari masjid utama yang atapnya berbentuk limas, terdiri dari tiga tingkat. Pada bagian atas sisi limas atap terdapat jurai daun simbar menyerupai tanduk kambing yang melengkung. Setiap sisi limas memiliki 13 jurai. Bentuk jurai melengkung dan lancip. Rupa ini merupakan bentuk atap kelenteng. Masjid ini dulunya adalah masjid terbesar di Indonesia selama beberapa tahun. Bentuk masjid yang ada sekarang adalah hasil renovasi tahun 2000 dan selesai tahun 2003. Megawati Soekarnoputri adalah orang yang meresmikan masjid raksasa Sumatera Selatan modern ini.