A. Gambaran Umum

Benteng Kuto Besak merupakan salah satu peninggalan utama Kesultanan Palembang Darussalam. Benteng ini berada di kawasan pusat Kota Palembang dan memiliki posisi strategis di tepian Sungai Musi. Pemerintah Indonesia menetapkan Benteng Kuto Besak sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor KM.09/PW.007/MKP/2004.

B. Nilai Sejarah

Pembangunan Benteng Kuto Besak berkaitan dengan perkembangan Kesultanan Palembang Darussalam. Berdasarkan kajian Balai Pelestarian Cagar Budaya, pembangunan benteng dimulai pada sekitar 1780 dan gagasan pembangunannya telah muncul pada masa Sultan Mahmud Badaruddin I. Benteng kemudian digunakan sebagai tempat kediaman Sultan dan keluarganya serta menjadi pusat pemerintahan kesultanan.

Lokasi Benteng Kuto Besak memiliki nilai strategis karena berada di kawasan yang dikelilingi jaringan sungai. Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, kawasan ini berkaitan dengan Sungai Musi, Sungai Sekanak, Sungai Tengkuruk, dan Sungai Kapuran. Kondisi tersebut memperlihatkan hubungan antara sistem pertahanan, pemerintahan, transportasi sungai, dan kehidupan perkotaan pada masa lalu.

C. Karakteristik Budaya

Benteng Kuto Besak memiliki karakter yang berbeda dari sejumlah benteng kolonial di Indonesia karena berkaitan langsung dengan kekuasaan Kesultanan Palembang Darussalam. Kawasan ini juga menjadi salah satu ruang publik penting di Kota Palembang dan memiliki keterkaitan visual dengan Sungai Musi serta kawasan sekitar Jembatan Ampera. Pemerintah Kota Palembang memasukkan kawasan Kuto Besak dalam rencana penataan kawasan pusaka kota.

Benteng ini mulai dibangun pada tahun 1780 dengan arsitek yang tidak diketahui dengan pasti. Semen perekat bata menggunakan batu kapur yang ada di daerah pedalaman Sungai Ogan ditambah dengan putih telur. Waktu yang dipergunakan untuk membangun Kuto Besak ini kurang lebih 17 tahun. Keraton ini ditempati secara resmi pada hari Senin pada tanggal 21 Februari 1797.

Berbeda dengan letak keraton lama yang berlokasi di daerah pedalaman, keraton baru berdiri di posisi yang sangat terbuka, strategis, dan sekaligus sangat indah. Posisinya menghadap ke Sungai Musi.

Pada masa itu, Kota Palembang masih dikelilingi oleh anak-anak sungai yang membelah wilayah kota menjadi pulau-pulau. Kuto Besak pun seolah berdiri di atas pulau karena dibatasi oleh Sungai Sekanak di bagian barat, Sungai Tengkuruk di bagian timur, dan Sungai Kapuran di bagian utara.

Benteng Kuto Besak saat ini ditempati oleh Komando Daerah Militer (Kodam) Sriwijaya.